Ratusan Unggas Mati 06-03-2008
SLEMAN, KOMPAS - Sepanjang 1 Januari-1 Maret 2008, 611 ekor ayam mati terserang virus flu burung di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Angka kematian unggas tertinggi terdapat di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Turi (150 ekor), Kecamatan Ngaglik (140 ekor), dan Kecamatan Tempel (116 ekor).
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Suwandi Azis di Kantor Pemerintah Kabupaten Sleman, Rabu (5/3).
Pada periode yang sama tahun 2007, unggas yang mati tercatat 366 ekor.
Suwandi menambahkan, populasi ayam petelur di Kabupaten Sleman kini mencapai dua juta ekor, sedangkan populasi ayam potong (broiler) 2,5 juta ekor.
Untuk mengantisipasi penyebaran virus, tahun 2008 Pemkab Sleman akan memperketat pengawasan lalu lintas unggas. â€Akan dibangun tempat penampungan hewan sebagai sarana pengecekan unggas yang akan dikirim keluar Sleman,†ujar Suwandi. Untuk unggas yang masuk ke Sleman, petugas mengecek di tempat pemotongan hewan.
Suwandi mengimbau warga untuk waspada. â€Jika ada ayam mati mendadak, warga diharapkan segera melaporkan kepada petugas,†ucapnya.
Kepada para peternak unggas, Suwandi mengimbau untuk menjaga kondisi unggas, memelihara kebersihan, serta memberi desinfektan pada kandang dan sekitarnya.
Tidak dikandangkan
Kegiatan vaksinasi unggas di Kabupaten Kulon Progo, DIY, guna menangkal flu burung tidak berlangsung optimal. Penyebabnya, kesadaran warga untuk mengandangkan unggas peliharaannya masih rendah.
â€Unggas sering kali dilepas begitu saja. Saat petugas datang ke rumah warga, tidak semua unggas bisa divaksinasi sehingga risiko penularan flu burung tetap besar,†ujar Kepala Subdinas Kehewanan Kulon Progo Joko Harianto, Rabu.
Menurut catatan dinas pertanian, sejak awal 2008 sebanyak 276 unggas positif terinfeksi virus flu burung. Namun, tahun ini belum ditemukan kasus penularan flu burung ke manusia.
Kasus suspect (terduga) flu burung terakhir terjadi tahun 2007, menimpa dua warga Kulon Progo. Setelah dirawat di ruang isolasi RS dr Sardjito Yogyakarta, keduanya dinyatakan sehat.
Di Dusun Tayuban, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, misalnya, banyak ayam, itik, dan merpati yang dibiarkan berkeliaran.
Salah satu warga, Eko (33), mengatakan, memelihara unggas dalam kandang lebih sulit karena harus rajin memberi makan. Jika tidak dikandangkan, unggas bisa bebas mencari makan.
Sejak merebaknya kasus flu burung di Kulon Progo, tahun 2006, warga Tayuban mulai membuat kandang. â€Namun, setelah dibuat, kandang ada yang dipakai, ada yang tidak,†tutur Eko.
Joko menyatakan, Dinas Pertanian dan Kelautan Kulon Progo bekerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi DIY untuk menyukseskan gerakan pembuatan kandang unggas.
Untuk itu, akan ditunjuk kader pencegah flu burung di masing- masing desa. Tiap kader diberi insentif sebesar Rp 500.000 untuk membuat kandang unggas percontohan. Kader lalu diminta mencari 10 peternak dari dusun berlainan untuk diajak membuat kandang. Setiap peternak yang bersedia membuat kandang akan diberi bantuan sebesar Rp 250.000. Peternak itu diharapkan menjadi motivator bagi warga di lingkungannya untuk membuat kandang. (A06/YOP)
Sumber: Kompas
Rabu, 05 November 2008
Selasa, 14 Oktober 2008
Langganan:
Komentar (Atom)
